Dari Insecure sampai FOMO: Cara Gen Z Menamai Rasa Takut Tertinggal

Dari Insecure sampai FOMO: Cara Gen Z Menamai Rasa Takut Tertinggal

Oleh: Naila Dzikratunnisa Pangestu, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pernah merasa ingin ikut nongkrong, tren, atau aktivitas tertentu padahal sebenarnya tidak terlalu tertarik? Bukan karena penasaran, tapi karena takut ketinggalan. Fenomena ini sangat akrab dengan kehidupan Gen Z hari ini. Di baliknya, sering kali ada satu perasaan yang jadi pemicu utama: insecure. Dari rasa insecure inilah FOMO lahir dan dimaknai.

Dalam kajian psikolinguistik, kata tidak dipahami semata-mata lewat definisi kamus. Makna terbentuk dari pengalaman, konteks sosial, serta emosi yang menyertainya. Itulah yang terjadi pada kata insecure di kalangan Gen Z. Secara leksikal, insecure berarti tidak percaya diri. Namun dalam realitas digital, maknanya berkembang menjadi rasa kurang, takut tertinggal, cemas tidak dianggap, dan khawatir tidak relevan dibanding orang lain.

Media sosial memainkan peran besar dalam pembentukan makna ini. Setiap hari, Gen Z terpapar unggahan tentang pencapaian, kebahagiaan, dan gaya hidup orang lain yang tampak selalu menarik. Otak kemudian memproses perbandingan sosial ini secara berulang. Dari sinilah insecure bekerja, bukan sekadar perasaan sesaat, tetapi kondisi psikologis yang terus diperkuat oleh konteks.

Ketika insecure sudah terbentuk, FOMO muncul sebagai respons. Fear of Missing Out tidak lagi sekadar takut tidak ikut acara, tetapi rasa tidak nyaman karena merasa tertinggal dari kehidupan sosial dan simbol-simbol “keberhasilan” yang dilihat orang lain. Secara psikolinguistik, FOMO berfungsi sebagai label emosi. Dengan menyebut “aku FOMO”, Gen Z sedang memberi nama pada kegelisahan batin mereka: takut tidak diikutkan, takut tidak dianggap bagian dari lingkaran sosial.

Menariknya, FOMO sering mendorong perilaku ikut-ikutan. Ikut tren, ikut nongkrong, ikut challenge, atau sekadar ikut ramai di media sosial bukan selalu karena keinginan pribadi, melainkan sebagai upaya meredakan rasa insecure. Bahasa di sini bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat regulasi emosi. Satu kata mampu merangkum perasaan kompleks tanpa harus dijelaskan panjang lebar.

Pemaknaan insecure dan FOMO di kalangan Gen Z juga terbentuk lewat bahasa digital: caption singkat, story, komentar, hingga meme. Konteks inilah yang membuat makna kata menjadi cair dan personal. Dua orang bisa menggunakan kata yang sama, tetapi merasakan emosi yang berbeda, tergantung pengalaman dan posisi sosialnya.

Jika dilihat dari sudut pandang sekarang, kata-kata tren ini mencerminkan kondisi psikologis generasi yang hidup di dunia serba cepat dan terhubung. Insecure menjadi titik awal, FOMO menjadi reaksi, dan bahasa menjadi jembatan untuk memahami sekaligus menenangkan diri. Maka, penggunaan kata-kata ini bukan sekadar gaya-gayaan bahasa anak muda.

Bagi Gen Z, insecure dan FOMO adalah cara menamai perasaan, mengenali kegelisahan, dan berusaha tetap merasa “cukup” di tengah arus sosial yang deras. Bahasa, dalam hal ini, tidak hanya mengikuti tren, tetapi menjadi cermin dari realitas psikologis penggunanya. Di balik satu kata sederhana, tersimpan cerita tentang kecemasan, kebutuhan diterima, dan usaha memahami diri di zaman sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *