INSTO Dry Eyes Ajak Masyarakat Bebas Mata SePeLe di Tengah Gempuran Layar Digital

Mata terasa sepet, perih, dan cepat lelah kerap dianggap konsekuensi wajar dari bekerja terlalu lama atau kurang tidur. Banyak orang memilih bertahan, menambah kopi, lalu kembali menatap layar. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda mata kering. Kondisi yang tanpa disadari dialami jutaan orang dan berpotensi menurunkan produktivitas hingga kualitas hidup.

Di era digital, kondisi ini semakin relevan. Aktivitas menatap layar gadget, komputer, dan laptop dalam durasi panjang telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, termasuk jurnalis dan pekerja digital. Ironisnya, meski keluhan mata kerap dirasakan, tingkat kesadaran terhadap mata kering masih tergolong rendah.

Gambaran tersebut tercermin dalam Survey INSTO Dry Eyes yang menunjukkan bahwa 41 persen masyarakat di wilayah Jabodetabek dan Bandung mengalami mata kering. Artinya, empat dari sepuluh orang pernah atau sedang mengalami kondisi tersebut. Ironisnya, sekitar 20 persen di antaranya tidak menyadari bahwa keluhan yang dialami merupakan gejala mata kering.

Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala mata SePeLe (Sepet, Perih, dan Lelah) sering dianggap remeh. Banyak orang baru menyadari kondisinya ketika keluhan sudah cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti sulit fokus bekerja atau cepat merasa lelah saat menatap layar.

Gadget dan Komputer, Pemicu yang Tak Terhindarkan

Fenomena ini bukan sekadar keluhan subjektif. Temuan ilmiah telah lama mengaitkan penggunaan perangkat digital dengan meningkatnya risiko mata kering dan kelelahan mata, terutama pada individu dengan paparan layar berkepanjangan. Studi yang dilakukan Tsubota dan Nakamori dalam New England Journal of Medicine menjelaskan menatap layer komputer atau video display terminal menyebakan penurunan frekueni berkedip mata secara signifikan. Kondisi ini membuat air mata lebih cepat menguap, sehingga memicu iritasi dan rasa tidak nyaman pada mata.

Temuan tersebut diperkuat oleh Rosenfield dalam ulasannya mengenai Computer Vision Syndrome. Ia menyebutkan bahwa penggunaan komputer dan perangkat digital dalam durasi Panjang dapat menyebabkan mata sepet, perih, dan lelah. Risiko keluhan meningkat pada individu yang menggunakan layar digital lebih dari empat hingga enam jam per hari tanpa jeda istirahat mata.

Bahkan, berdasarkan studi Rosenfield membaca atau melihat objek dekat selalu dilakukan pada jarak tetap sekitar 40 cm sudah tidak sesuai dengan realitas visual modern. Jarak tersebut berasal dari kebiasaan membaca teks cetak dengan posisi mata lurus ke depan.

Dalam era digital, pola visual manusia berubah signifikan. Hal ini dikarenakan pengguna perangkat elektronik tidak hanya membaca teks pada satu jarak dan satu sudut pandang, melainkan Menggunakan berbagai perangkat (laptop, monitor, tablet, smartphone), dengan jarak kerja yang bervariasi (lebih dekat dari 40 cm pada smartphone, lebih jauh pada monitor) dan dengan sudut pandang yang berubah-ubah. Perbedaan inilah yang membuat tuntutan visual layar digital tidak bisa disamakan dengan bahan cetak.

Secara fisiologis, kedipan mata berfungsi menjaga kelembapan permukaan mata melalui distribusi air mata. Saat seseorang fokus menatap layar, frekuensi berkedip bisa menurun hingga setengahnya. Akibatnya, permukaan mata menjadi lebih kering dan rentan mengalami iritasi.

Digital Eye Strain dan Gejala SePeLe

Dalam dunia oftalmologi, keluhan akibat paparan layar digital dikenal sebagai digital eye strain. Menurut Sheppard dan Wolffsohn dalam BMJ Open Ophthalmology, mata kering merupakan salah satu gejala utama digital eye strain, disusul rasa perih, sensasi mengganjal, dan mata cepat lelah. Kondisi ini semakin sering ditemukan pada masyarakat dengan gaya hidup digital intensif dan lingkungan kerja berpendingin udara.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa keluhan mata SePeLe bukan sekadar kelelahan biasa, melainkan bagian dari gangguan visual yang memiliki dasar ilmiah kuat.

Temuan internasional tersebut sejalan dengan hasil penelitian di Indonesia. Sejumlah studi pada mahasiswa dan pekerja muda menunjukkan adanya hubungan signifikan antara durasi screen time dengan keluhan mata kering, yang diukur menggunakan Ocular Surface Disease Index (OSDI). Semakin lama waktu paparan layar gadget dan komputer, semakin tinggi tingkat keluhan mata kering dan kelelahan mata. Hasil penelitian ini memperkuat bukti bahwa gaya hidup digital berperan besar dalam meningkatnya kasus mata kering, khususnya di kalangan usia produktif.

Dokter Spesialis Mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, mengatakan sebagian besar pasien mata kering datang berobat ketika kondisinya sudah cukup parah.

“Banyak pasien mata kering datang saat kondisinya sudah berat, padahal gejala awal seperti mata sepet, perih, dan lelah sudah muncul sejak lama. Mereka tidak sadar bahwa itu adalah tanda mata kering,” jelasnya.

Menurut Dr. Eka, mata kering memiliki jenis dan tingkat keparahan yang berbeda-beda sehingga penanganannya bersifat tailor-made, atau disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. “Inilah mengapa penanganan mata kering tidak bisa disamaratakan,” tegasnya. Penanganan dapat berupa kompres hangat, latihan berkedip, perawatan kebersihan kelopak mata (lid hygiene), penggunaan artificial tears, hingga terapi lanjutan sesuai kebutuhan pasien.

Edukasi dan Kesadaran Jadi Kunci

Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap mata kering juga berdampak pada kesalahan penanganan. Sebagian orang yang tidak sadar mengalami mata kering justru menggunakan tetes mata yang tidak sesuai, sementara sebagian lainnya tidak melakukan tindakan apa pun.

Pengalaman serupa juga dialami figur publik sekaligus content creator Yuki Kato. Ia mengaku kerap merasakan mata sepet, perih, dan lelah dalam kesehariannya.

“Awalnya saya pikir sepele, cuma kecapekan atau kurang tidur. Tapi lama-lama mengganggu konsentrasi dan kerjaan,” ungkapnya. Melalui kampanye Bebas Mata SePeLe, Yuki baru menyadari bahwa keluhan tersebut merupakan gejala mata kering.

Kondisi ini mendorong INSTO, merek tetes mata dari Combiphar, meluncurkan kampanye “Bebas Mata SePeLe”. Kampanye ini mengajak masyarakat mengenali tiga gejala utama mata kering, yakni SEpet, PErih, dan LElah (SePeLe).

“Mata kering bisa mengancam tanpa disadari. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini berisiko mengganggu produktivitas dan bahkan kualitas hidup,” demikian disampaikan Direktur PT Combiphar, Weitarsa Hendarto dalam peluncuran kampanye tersebut di Jakarta.

Weitarsa Hendarto, menegaskan bahwa rendahnya literasi masyarakat mengenai mata kering menjadi perhatian serius. Sebagai merek tetes mata yang telah dipercaya lebih dari 50 tahun, INSTO merasa memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran publik.

“Kami ingin masyarakat mengenali gejala mata kering dan memahami pentingnya penanganan sejak dini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Farah Feddia, GM Eye Care Combiphar. Ia mengungkapkan bahwa berbagai riset internal menunjukkan fakta yang cukup mengkhawatirkan. “Empat dari sepuluh orang mengalami mata kering, namun separuhnya tidak menyadari kondisinya. Fakta ini menegaskan pentingnya edukasi yang lebih luas,” katanya.

Sebagai bagian dari kampanye, INSTO menghadirkan INSTO Dry Eyes yang diformulasikan khusus untuk membantu meredakan gejala mata kering. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) yang berfungsi sebagai pelumas menyerupai air mata alami dan membantu meringankan iritasi akibat berkurangnya produksi air mata.

Kandungan tersebut bahkan diajukan oleh International Council of Ophthalmology (ICO) kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai panduan terapi untuk mengatasi gejala mata kering. INSTO Dry Eyes tersedia dalam kemasan 7,5 ml yang praktis dan mudah dibawa.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa penggunaan tetes mata sebaiknya dibarengi dengan perubahan kebiasaan, seperti mengistirahatkan mata secara berkala, mengatur waktu layar, dan menjaga hidrasi tubuh.

Di tengah tuntutan visual era digital, mata sepet, perih, dan lelah bukan lagi keluhan kecil. Ia adalah sinyal awal yang kerap diabaikan. Mengenalinya sejak dini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi tentang menjaga fokus, produktivitas, dan kualitas hidup di dunia yang semakin bergantung pada layar. Saatnya tidak lagi menganggap SePeLe sebagai hal sepele.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *