Menguak Kekayaan Terdiam: Naskah Nusantara di Persimpangan Linguistik dan Memori Kolektif (Analisis Filologis Terhadap Seruan Perpusnas)
Oleh: Zahra Aurelia
Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia kembali menyerukan pentingnya mengarusutamakan Naskah Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Bangsa. Seruan ini bukan sekadar ajakan pelestarian benda kuno, melainkan sebuah panggilan mendesak dari kacamata filologi dan linguistik untuk menghidupkan kembali roh kebahasaan dan intelektual yang terperangkap dalam lembaran-lembaran kertas, daun lontar, dan kulit kayu. Naskah kuno adalah data primer yang tak ternilai. Ia merekam setiap jejak evolusi bahasa, keragaman aksara, dan kompleksitas wacana masalalu. Namun untuk benar-benar menjadi “ingatan kolektif”, naskah harus lebih sekedar koleksi, serta harus dipahami.
- Naskah: Laboratorium Linguistik Historis
Naskah Nusantara, seperti Nagarakretagama, Babad Tanah Jawi, atau berbagai hikayat dan suluk lokal, adalah arsip linguistik yang berjalan. Analisis terhadap teks-teks ini memungkinkan ahli bahasa menelusuri:
Leksikon dan Semantik: Naskah menunjukkan kosakata dan makna kata yang digunakan oleh masyarakat kuno. Misalnya, kata-kata dalam Melayu klasik memiliki makna yang bergeser jauh dalam Bahasa Indonesia modern. Dengan mengkajinya, kita dapat memahami bagaimana sistem makna sebuah bangsa telah berubah seiring waktu.
Struktur Sintaksis: Naskah kuno menyajikan pola kalimat dan tata bahasa yang merepresentasikan fase perkembangan tertentu dari bahasa lokal, baik itu Jawa Kuno, Sunda Kuno, atau Melayu. Ini adalah kunci untuk merekonstruksi akar-akar bahasa Indonesia modern.
Kekayaan Aksara: Di baliknya Seruan Perpusnas, tersimpan pengakuan atas vitalitas aksara-aksara lokal—Jawi, Pegon, Pallawa, Lontara, dsb. Mengarusutamakan naskah berarti mengarusutamakan pembelajaran aksara-aksara ini sebagai bagian dari identitas linguistik.
- Memutus Rantai Kepunahan Makna (The Filological Gap)
Tantangan terbesar yang dihadapi naskah kuno saat ini bukanlah kerusakan fisik, melainkan “kepunahan makna.” Sebagian besar naskah ditulis dalam bahasa dan aksara yang sudah tidak lagi aktif digunakan. Naskah menjadi rentan secara linguistik karena tidak ada yang bisa membacanya dan menginterpretasi isinya secara tepat, di sinilah peran filologi menjadi krusial. Filologi, secara harfiah berarti “cinta pada kata-kata,” yang bertugas sebagai: -
Transliterasi dan Transkripsi yaitu, mengalihaksarakan aksara kuno menjadi aksara Latin dan menyajikan naskah asli dalam bentuk teks yang dapat dibaca.
-
Kritik Teks yaitu, membandingkan berbagai versi naskah yang mungkin berbeda (variasi penyalinan) untuk merekonstruksi teks otentik (edisi kritis).
-
Terjemahan dan Interpretasi yaitu, menganalisis makna kata dalam konteks budaya dan sejarahnya, sehingga pesan-pesan leluhur dapat dipahami oleh generasi modern.
Tanpa adanya filolog, upaya Perpusnas hanya berhenti di tahap konservasi. Naskah akan aman, tetapi konten intelektualnya tetap terkunci.
- Kontribusi Naskah pada Literasi dan Karakter Bangsa
Mengintegrasikan naskah ke dalam ingatan kolektif juga memiliki dampak signifikan pada pembangunan literasi modern untuk memperkaya kosakata. Naskah kuno adalah bank data kosakata yang mengandung kearifan lokal. Revitalisasi istilah-istilah kuno yang kaya makna dapat memperdalam Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan budaya. Serta akar literasi kritis: Banyak naskah berisi ajaran moral, etika kepemimpinan (Astabrata), hingga strategi militer. Dengan membacanya secara kritis, masyarakat diajak berdialog dengan pikiran leluhur, sebuah proses yang esensial dalam membangun karakter dan literasi historis. Pada akhirnya, seruan Perpusnas adalah undangan bagi seluruh elemen bangsa—termasuk para linguis, sejarawan, pendidik, dan generasi muda untuk terlibat dalam suatu proses budaya yang penting: mengubah warisan yang bisu menjadi wacana yang hidup. Karena warisan sesungguhnya dari naskah Nusantara bukanlah kertasnya, melainkan suara dan kearifan bahasa yang terkandung di dalamnya. Melalui bahasa, kita tidak hanya mengingat masa lalu, tetapi juga menentukan identitas linguistik masa depan.
