Di tengah upaya pemulihan pascabencana, pernyataan pejabat seharusnya menjadi sumber ketenangan. Namun yang terjadi di Aceh justru sebaliknya. Ketika laporan resmi menyebut sebagian besar listrik telah pulih, banyak warga masih mengalami pemadaman. Ketidaksinkronan ini memicu kekecewaan, bahkan kemarahan, di ruang publik.
Fenomena tersebut tidak bisa dibaca semata sebagai persoalan teknis kelistrikan. Ia adalah persoalan bahasa—bagaimana realitas diterjemahkan ke dalam kata dan angka, lalu diterima oleh masyarakat yang sedang berada dalam kondisi psikologis rentan.
Bahasa Angka dan Harapan Publik
Dalam komunikasi kebijakan, angka sering dipakai untuk menunjukkan kemajuan. Persentase dan statistik memberi kesan objektif, rapi, dan meyakinkan. Ketika disebut bahwa listrik Aceh telah pulih lebih dari 90 persen, publik menangkap pesan bahwa situasi hampir normal.
Masalah muncul ketika bahasa angka tersebut tidak sejalan dengan pengalaman hidup warga. Bagi masyarakat yang masih gelap, angka tinggi justru terasa seperti pengingkaran. Dari sudut pandang psikolinguistik, ini menciptakan expectation gap—jarak antara harapan yang dibangun bahasa dan realitas yang dialami.
Ketika Pengalaman Warga Tak Terwakili
Bagi warga Aceh, listrik bukan sekadar fasilitas, tetapi kebutuhan dasar pascabencana. Ketika laporan resmi menyatakan kondisi “sudah pulih”, sementara di lapangan listrik hanya menyala beberapa jam atau belum menyala sama sekali, muncul rasa tidak diakui.
Psikolinguistik sosial menjelaskan bahwa manusia memproses informasi dengan membandingkannya pada pengalaman pribadi. Jika pengalaman itu bertolak belakang dengan narasi resmi, respons emosional seperti marah dan kecewa menjadi wajar. Yang terluka bukan hanya kenyamanan, tetapi juga rasa dipercaya.
Mengapa Amarah Cepat Menyebar?
Kemarahan warga Aceh menyebar cepat karena didukung oleh kesaksian kolektif. Media sosial menjadi ruang berbagi pengalaman yang saling menguatkan. Dalam istilah psikolinguistik, ini dikenal sebagai emotional contagion—emosi menyebar melalui bahasa yang diulang dan dibagikan bersama.
Selain itu, identitas sebagai “warga terdampak” membentuk solidaritas emosional. Ketika satu suara merasa diabaikan, suara lain ikut bergema. Bahasa resmi yang terasa terlalu optimistis akhirnya dibaca sebagai jarak antara elite dan warga.
Niat Baik, Dampak yang Berbeda
Pernyataan optimistis sering diniatkan untuk menenangkan publik. Namun niat penutur tidak selalu sejalan dengan dampak psikologis ujaran. Linguis David Crystal menekankan bahwa makna bahasa sangat ditentukan oleh konteks pendengar. Dalam situasi krisis, masyarakat lebih sensitif terhadap ketidaksesuaian informasi.
Karena itu, klarifikasi teknis yang muncul belakangan sering tidak cukup meredam emosi. Bahasa rasional kalah cepat dibanding bahasa pengalaman.
Pelajaran Bahasa dari Aceh
Kasus Aceh memberi pelajaran penting tentang komunikasi publik. Data dan angka memang penting, tetapi cara membahasakannya jauh lebih menentukan respons masyarakat. Bahasa yang mengakui keterbatasan, ketidakpastian, dan kesulitan warga justru lebih menenangkan daripada klaim capaian tinggi.
Dalam perspektif psikolinguistik, empati bukan hanya sikap, tetapi juga strategi bahasa.
Penutup
Aceh mengajarkan bahwa di tengah krisis, masyarakat tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga bahasa yang jujur dan membumi. Ketika angka resmi tidak selaras dengan realitas warga, yang muncul bukan rasa aman, melainkan amarah kolektif.
Bahasa memiliki kekuatan membangun kepercayaan, tetapi juga bisa meruntuhkannya. Dan di Aceh, kita belajar bahwa terang dalam laporan tidak selalu berarti terang dalam kehidupan nyata. (M. Egi Arief Firdaus (Mahasiswa Semester 5 Pendidikan Bahasa Arab UIN Jakarta)
