Bom Waktu Emansipasi: Dua Novel Indonesia yang Guncangkan Patriarki!
Oleh: Ahmed mahasiswa UIN Jakarta
Dua novel legendaris Indonesia, Kehilangan Mestika karya Fatimah Hasan Delais (1935) dan Midah Si Manis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer (1956), menjadi bom waktu emansipasi yang meledakkan patriarki pada era kolonial melalui kisah perempuan pemberani yang tak kenal takut melawan adat pingitan atau pernikahan paksa dan penindasan gender. Sosok Hamidah dalam novel karya Fatimah bangkit lewat dunia pendidikan dan organisasi perempuan di kota Bangka hingga Jakarta. Sementara, Midah dalam novel karya Mas Pram memilih pemberontakan liar dengan gigi emas sebagai simbol keberanian yang ganas, Ia kabur dari keluarga bermoralis Betawi untuk kebebasan tragis di jalanan kota.
Karya-karya ini bukan sekedar cerita fiksi belaka, melainkan ledakan emansipasi yang masih bergema hingga kini dengan menggugat ketidakadilan sosial melalui cara realistis dan puitis yang menggetarkan hati pembaca serta inspirasi gerakan perempuan modern.
Tema Emansipasi yang Mengguncang
Perlawanan di Kehilangan Mestika
Bayangkan Hamidah, gadis Bangka yang terperangkap dalam jerat adat pingitan seperti burung dalam sangkar emas, tapi ia robek belenggu itu dengan api pendidikan dengan menjadi perempuan pertama yang membangun sekolah khusus untuk saudara-saudarinya, melawan tidakadilan gender di mana pingitan jadi penjara jiwa, pernikahan sekedar dagang barang, dan paksaan adat timbulkan luka yang mendalam. Mestika, sebagai perhiasan kemurnian yan direnggut, melambangkan hilangnya nilai diri oleh tradisi, sementara caha sekolah nyalakan harapan baru. Novel ini disajikan oleh Fatimah Hasan Delais dalam gaya sastra puitis deskriptif yang mencampur realisme kehidupan dengan gelora emosi, membuat pembaca ikut bergetar menyaksikan emansipasi yang membara.
Perlawanan di Midah Si Manis Bergigi Emas
Midah mewakili individualisme tegas yang membara, ia buang norma keluarga yang kaku demi hasrat membara dan panggilan seni mengungkap kemunafikan terhadap motal patriarki melalui tokoh ayah yang menampar wajah Midah karena lagu kroncong “terlarang”. Hal tersebut yang menjadikannya terdorong untuk kabur ke jalan kota Jakarta dalam era kolonial yang penuh dengan jurang sosial, seperti tamparan fisik, pengusiran kemiskinan, dan cap buruk pada perempuan yang jatuh. Namun, gigi emas pada taringnya menjadi simbol kekuatan tajam yang mengigit balik penindasan, sementara irama kroncong menyanyikan kebebasan liar melawan ortodoksi beku dan humaniasme. Mas Pram menarik ulur antara tuntutan moral dengan belas kasih mendalam, buktikan perempuan tangguh seperti Midah yang tak benar-benar kalah meski hidupnya berakhir tragis.
Perbandingan yang Menyita Perhatian
Kedua novel legendaris Indonesia, meledakkan emansipasi perempuan dengan strategi yang kontras namun sama-sama menyita perhatian. Hamidah di kota Bangka memilih jalan teratur dengan membangun lembaga sosial seperti sekolah dan perkumpulan untuk merobek adat pingitan secara kolektif. Sementara, Midah di hiruk-pikuk kota Jakarta mengambil jalur lair penuh gairah pribadi, kabur dari rumah dan melawan patriarki keluarga dengan gigi emas sebagai simbol keberanian. Latar kolonial Belanda menyatukan keduanya dalam pertempuran melawan musuh utama yang sama, seperti norma patriarki keluarga yang mencekik kebebasan perempuan.
Referensi
Delais, F.H. (2011). Kehilangan Mestika. Jakarta: PT. Balai Pustaka
Toer, P.A. (2009). Midah Si Manis Bergigi Emas. Jakarta: Lendetera Dipantra.
