Ketika Bahasa Menyerang Identitas: Mengapa Ujaran Resbob Memicu Amarah Kolektif

Viralnya potongan siaran langsung kreator konten Resbob kembali membuka diskusi lama tentang batas bahasa di ruang digital. Ujaran yang ia sampaikan—yang dinilai merendahkan suku Sunda dan komunitas pendukung Persib Bandung—dengan cepat memicu reaksi keras publik dan berujung pada proses hukum. Namun, di balik sorotan terhadap figur dan kasusnya, ada persoalan yang lebih luas: mengapa satu ujaran bisa memancing kemarahan kolektif dalam waktu singkat.

Kasus Resbob menarik dibaca bukan semata karena viralitasnya, melainkan karena ia memperlihatkan bagaimana bahasa bekerja sebagai pemicu psikologis dan sosial di masyarakat yang majemuk.

Resbob sebagai Pemicu, Bukan Pusat Persoalan

Ucapan Resbob terjadi dalam situasi siaran langsung dan kemudian tersebar luas melalui berbagai platform media sosial. Reaksi publik pun muncul hampir serempak, mulai dari kecaman warganet hingga laporan resmi ke aparat penegak hukum. Resbob sendiri telah menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf, dengan menyebut kondisi tidak sadar saat siaran berlangsung.

Namun, dalam konteks psikolinguistik, persoalan tidak berhenti pada niat atau kondisi penutur. Bahasa yang telah beredar di ruang publik akan diproses secara mandiri oleh pendengar, terlepas dari maksud awal pembicaranya. Di sinilah ujaran tersebut berubah dari persoalan individu menjadi isu kolektif.

Bahasa sebagai Identitas Sosial

Psikolinguistik sosial memandang bahasa sebagai bagian dari identitas. Henri Tajfel, melalui Social Identity Theory, menjelaskan bahwa manusia cenderung mengaitkan harga diri dengan kelompok sosialnya. Ketika suatu kelompok disebut secara general dan diberi stigma tertentu, otak pendengar memaknainya sebagai serangan terhadap identitas, bukan sekadar opini.

Inilah yang membuat ujaran bernuansa SARA terasa jauh lebih sensitif. Yang tersentuh bukan hanya perasaan personal, melainkan martabat kolektif yang telah terbentuk secara historis dan kultural.

Mengapa Emosi Publik Cepat Tersulut?

Dari sudut pandang psikolinguistik, ancaman terhadap identitas diproses lebih cepat melalui jalur emosional otak. Reaksi marah dan tersinggung sering muncul sebelum proses rasional bekerja. David Crystal, linguis yang banyak mengkaji hubungan bahasa dan masyarakat, menegaskan bahwa makna ujaran sangat bergantung pada konteks sosial dan relasi antar kelompok.

Di media sosial, konteks ini sering terpotong. Ujaran yang awalnya muncul dalam situasi tertentu berubah menjadi simbol penghinaan ketika dibagikan secara masif. Proses ini diperkuat oleh efek penularan emosi, di mana kemarahan satu kelompok menyebar melalui komentar, unggahan ulang, dan narasi lanjutan.

Niat Penutur dan Dampak Bahasa

Klarifikasi dan permintaan maaf yang disampaikan Resbob menunjukkan adanya pengakuan kesalahan. Namun, psikolinguistik membedakan antara niat penutur dan dampak ujaran. Ucapan yang keluar tanpa kontrol kognitif tetap membawa makna bagi pendengar dan dapat meninggalkan luka psikologis.

Karena itu, tidak mengherankan jika permintaan maaf tidak langsung meredam amarah publik. Bahasa yang menyentuh identitas kelompok memiliki daya ingat sosial yang lebih panjang dibanding ujaran biasa.

Pelajaran Linguistik dari Kasus Resbob

Kasus Resbob menjadi contoh konkret bagaimana bahasa di ruang digital dapat bereskalasi menjadi konflik sosial. Ia mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi perlu disertai kesadaran akan cara bahasa diproses oleh orang lain.

Bagi kreator konten, memahami dimensi psikologis bahasa bukan sekadar etika, melainkan kebutuhan. Kata-kata yang diucapkan di ruang publik digital tidak lagi bersifat personal, melainkan menjadi bagian dari wacana sosial yang lebih luas.

Penutup

Ujaran Resbob dan reaksi publik yang menyertainya menunjukkan bahwa bahasa memiliki kekuatan besar dalam membentuk emosi kolektif. Dari perspektif psikolinguistik, kemarahan yang muncul bukanlah reaksi berlebihan, melainkan respons manusiawi terhadap ancaman identitas.

Di tengah derasnya arus media sosial, kehati-hatian dalam berbahasa menjadi semakin penting. Karena ketika bahasa menyerang identitas, dampaknya tidak hanya berhenti pada satu orang, tetapi dapat mengguncang relasi sosial dalam skala yang jauh lebih luas. (Khresna Wahyu Hidayat (Mahasiswa Semester 5 Pendidikan Bahasa Arab UIN Jakarta)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *