SEPUTARBEKASI– Ketua DPRD Kota Bekasi, Sardi Efendi, memastikan teknologi yang akan digunakan dalam pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Bantargebang mengedepankan aspek lingkungan dan telah diterapkan di berbagai negara.
Hal tersebut disampaikan Sardi usai melakukan kunjungan kerja ke fasilitas pengolahan sampah milik Wangneng Environment di China. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung sistem operasional dan teknologi yang akan diadopsi pada proyek PSEL di Kota Bekasi.
Menurut Sardi, salah satu perhatian utama dalam pembangunan PSEL adalah sistem pengendalian emisi dan pengelolaan residu hasil pembakaran sampah. Berdasarkan hasil peninjauan, seluruh proses di fasilitas Wangneng telah menggunakan standar operasional yang ketat dan berbasis teknologi modern.
“Semua proses dikendalikan dengan teknologi, mulai dari penerimaan sampah, pembakaran, pengendalian emisi, hingga produksi listrik. Karena itu kami ingin melihat langsung bagaimana sistem ini bekerja,” ujar Sardi.
Ia menjelaskan, fasilitas pengolahan sampah yang dikunjungi tidak hanya berorientasi pada produksi energi listrik, tetapi juga menerapkan berbagai teknologi untuk meminimalkan dampak terhadap lingkungan.
Dalam prosesnya, sampah dibakar menggunakan teknologi insinerasi modern yang menghasilkan panas untuk memproduksi energi. Sementara itu, gas buang yang dihasilkan dari proses pembakaran terlebih dahulu melalui serangkaian tahapan pengendalian emisi sebelum dilepaskan ke udara.
Selain itu, residu hasil pembakaran juga diolah kembali sehingga volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat ditekan secara signifikan.
“Kami melihat bahwa teknologi ini tidak hanya fokus menghasilkan listrik, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan. Ini yang menjadi salah satu alasan kami semakin optimistis terhadap pembangunan PSEL Bantargebang,” katanya.
Sardi mengatakan, salah satu fasilitas Wangneng yang dikunjungi memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.500 ton sampah per hari. Seluruh aktivitas operasional dipantau melalui sistem digital terintegrasi yang memungkinkan pengawasan dilakukan secara real time.
Menurutnya, teknologi serupa akan diterapkan pada PSEL Bantargebang yang dirancang mampu menghasilkan sekitar 15 megawatt (MW) listrik dari pengolahan sampah perkotaan.
“Kami sudah melihat implementasinya secara langsung. Memang luas lahan di Kota Bekasi sekitar enam hektare, tetapi teknologi yang digunakan tidak jauh berbeda. Ini menjadi keyakinan bagi kami bahwa proyek ini dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Sardi menambahkan, kunjungan tersebut juga melibatkan unsur Pemerintah Kota Bekasi, tokoh masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh pihak dapat memperoleh pemahaman yang sama mengenai sistem pengelolaan sampah modern yang akan diterapkan di Kota Bekasi.
Ia berharap pembangunan PSEL Bantargebang yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) dapat segera direalisasikan dan menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan sampah di Kota Bekasi.
Selain mengurangi ketergantungan pada sistem landfill, keberadaan PSEL juga diharapkan mampu menghasilkan energi terbarukan, menekan emisi gas rumah kaca, dan mendukung terciptanya lingkungan perkotaan yang lebih berkelanjutan.






