seputarbekasi.com/, Jakarta — Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan atau Babeh Haikal menegaskan bahwa konsep halal saat ini telah berkembang jauh melampaui batas pemaknaan keagamaan. Dalam sambutannya di hadapan para pemangku kepentingan industri halal, ia menyampaikan bahwa halal kini menjadi lifestyle global, standar kualitas internasional, sekaligus mesin penggerak ekonomi dunia.
Dalam sambutannya, Babeh Haikal mengawali dengan kisah pengalamannya ketika bepergian ke luar negeri pada tahun 1992. Ia bercerita bahwa pada salah satu penerbangan menuju Eropa, pramugari maskapai asing tiba-tiba menyajikan makanan halal khusus untuk dirinya, tanpa ia pernah menyebutkan identitas agama ataupun permintaan khusus sebelumnya.
“Saya tidak pernah bilang saya muslim. Tapi mereka bilang, We know your name, Ahmad Haikal Hasan, so we guess you’re a muslim,” tuturnya, Jumat (21/11/2025).
Menurutnya, peristiwa sederhana itu menunjukkan bahwa sejak tiga dekade lalu, dunia internasional sudah memahami halal sebagai bagian dari customer satisfaction dan customer comfort.
“Halal itu bukan hanya tentang apa yang boleh dimakan atau tidak. Di luar negeri, mereka melihat halal sebagai standar kualitas dan keamanan,” ujarnya.
Babeh Haikal menjelaskan, berbagai negara memiliki persepsi masing-masing mengenai halal. Di Amerika Serikat, halal dipandang sebagai simbol kesehatan (symbol of health). Di Korea Selatan, halal identik dengan kebersihan berlipat (double clean). Sementara itu, negara-negara Eropa menyebut halal sebagai elite food, atau makanan berkualitas tinggi.
“Di Eropa, kalau tidak halal dianggap tidak elite. Itu cara mereka melihat kualitas,” katanya.
Menurut Babeh, pergeseran persepsi global itu menjadikan halal sebagai nilai ekonomi yang terus berkembang. Pasar halal dunia saat ini diperkirakan mencapai Rp21.000 triliun, mencakup sektor makanan, minuman, kosmetik, kesehatan, farmasi, hingga pariwisata.
“Ini bukan jumlah kecil. Industri halal adalah mesin ekonomi global. Semua negara berlomba masuk ke pasar ini,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar menjadi pusat industri halal dunia, namun harus didukung dengan ekosistem yang tertib, regulasi yang kuat, dan komitmen seluruh sektor.
“Indonesia bukan hanya pasar, tapi bisa menjadi pemain utama kalau ekosistem halal nasional kita kuat,” tegasnya.
Babeh Haikal menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki posisi strategis sebagai negara dengan populasi muslim terbesar dunia, namun perlu konsistensi dalam pengembangan standar dan penerapan jaminan produk halal.
Mengakhiri sambutannya, ia mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk melihat halal bukan sebagai beban regulasi, tetapi sebagai peluang besar untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah global.
“Halal itu lifestyle. Bukan sekadar label, tapi nilai tambah yang membuat produk kita diterima dunia,” ujarnya









